Minggu, 02 Oktober 2022

Berlayar Sekali Lagi (Bagian Terakhir)

     Cuaca diluar hujan. Rintik dan aromanya membuat suasana tenang terasa. Saya tak punya pilihan selain menghabiskan waktu di dalam rumah. Begitu banyak pilihan yang bisa saya lakukan, namun melanjutkan tulisan yang telah lama saya tinggalkan rasanya menjadi pilihan yang paling bijak.


    Saya terbangun saat siang hari menjelang. Sebuah pengumuman makan siang pada pukul 11.00 WIB, yang menurut saya tentu saja terlalu cepat untuk makan. Memang dalam hidup saya tidak mengenal jam makan ideal. Lapar, makan. Namun jam 11.00 WIB rasanya aneh untuk dinamakan makan siang.

    Mas Noer memperkenalkan diri seorang kepala keluarga yang berlayar bersama keluarganya. Mencoba mengadu nasib ke Saumlakki, Maluku. Ia memberi saya sebuah lauk yang ia bawa, ikan asap yang telah dikeringkan. Sialnya saya melupakan nama ikan tersebut. Ikan yang kelak selama 3 hari diatas kapal menjadi menu favorit saya.

    Sembari makan kami berbincang-bincang. Memperkenalkan diri kami masing-masing. Mas Noer adalah seorang nelayan dari Madura. Ia mendapatkan tawaran dari saudaranya (yang juga seorang nelayan) untuk ikut serta bersama timnya mencari ikan di Saumlakki. Ia memborong serta keluarganya untuk merantau kesana.

    Dalam hidup saya hanya merasakan mancing satu kali di Pulau Pramuka, namun menjadi mata pencaharian rasanya tak pernah saya bayangkan. Melawan deburan ombak tiap hari, bertaruh dengan cuaca, meninggalkan keluarga didaratan, serta jauh dari peradaban. Ah, berat sekali pekerjaannya. Hidup yang mudah memang bukan milik setiap orang.

    Saat makanan kami hendak habis datang seseorang yang cukup tua dengan senyum sumringah, memberi snack yang kami dapat dari jatah makan siang kepada seorang anak perempuan kecil. Ya, anak Mas Noer. "Ini buat kamu" ujar orang tua tersebut. Lalu memberi uluran tangan kepada kami berdua memperkenalkan diri sebagai Pakde.

    

    Usai makan siang kami keluar dari dek, berkumpul dianjungan untuk menikmati sebatang rokok. Pakde banyak bercerita tentang asal usulnya dan mengapa ia berada di atas kapal ini. Tentu saja diselingi guyonan jayus ala orang tua.

    Ia berasal dari Malang, dan mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai supir perusahaan kelapa sawit di Merauke, Papua. Meski usianya sudah lebih dari kepala lima, namun semangat kerjanya patut diacungi jempol. Merantau meninggalkan keluarganya di Jawa sana untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Lagi-lagi hidup yang mudah memang bukan milik setiap orang.

    Sembari menghisap rokok saya menikmati cerita Mas Noer dan Pakde tentang banyak hal yang mereka perbincangkan. Tentu saja diantara kami bertiga, pekerjaan saya sehari-hari bisa dibilang menjadi pekerjaan yang aneh bagi mereka. Plan, execute, evaluate, and report campaign menjadi hal yang mereka saya yakin akan garuk kepala bila saya ceritakan. Jadi saya lebih memilih banyak mendengar dari pada bercerita kali ini.


    Pukul 18:00 WIB sebuah pengumuman kembali diputar, tiba jam makan malam. Lagi-lagi jam makan yang aneh bagi saya. Alih-alih menikmati pemandangan senja dengan deburan ombak diatas kapal kami harus antri mengambil makanan. Perlu diketahui apabila kami tidak mengambil makan dalam batas waktu yang ditentukan kami tidak akan mendapatkan makanan. Memang tersedia kantin di kapal ini, namun hanya ada pop mie sebagai pilihannya.

    Saya, Mas Noer dan keluarga, serta Pakde menikmati sajian malam yang tentu saja paling saya tunggu, kembali menyicipi ikan asap yang keluarga Mas Noer bawa sebanyak satu toples besar. Malam itu dalam sunyi dek, kami bersyukur bisa menjadi keluarga baru. Seusai makan dan tentu saja menikmati sebatang rokok, saya memilih tidur lebih dahulu. Dengan suasana dek yang tenang (karena penghuni dek tersebut hanya kami), saya terlelap dengan pulas. Tak terasa kami sudah berada diperairan Bali.


    Tanjung Benoa pukul 14:00 WITA kapal yang kami naiki berlabuh, suasana kapal yang awalnya tenang berubah ramai. Para penumpang berangsur naik dan mengisi kamar yang kosong saat berangkat. 2 jam lebih kapal berlabuh mengisi air bersih dan keperluan berlayar lainnya.

    Saya menikmati waktu sendirian dikantin menikmati secangkir kopi, sebatang rokok dan melihat-lihat sosial media. Saya mengabari teman saya Randy, bahwasannya saya telah berada di Bali. Sembari membuka tanya jawab di Instagram Story tentang rasanya berlayar berhari-hari. Banyak pertanyaan lucu seperti bagaimana mandinya? Tentu saja di kapal ini tersedia kamar mandi, yang tidak kalah dengan di mall. Bersih dan terawat.

    Sore hari kapal membunyikan kembali klaksonnya tanda segera berlayar. Matahari terlihat berangsur mulai tenggelam, perlahan kami mulai meninggalkan perairan Bali.

    Pada malam hari selepas makan malam tak banyak yang bisa saya lakukan selain hanya mengobrol dengan penumpang sesama dek. Ditengah laut jarang sekali bisa mendapatkan sinyal internet, jadi saya lebih memilih tidur tiap kali malam datang.


    Tak terasa saya memasuki hari ke-3 diatas kapal, rasanya saya sudah semakin terbiasa. Siang nanti kapal akan berlabuh di Bima sebelum sampai di Labuan Bajo dini hari nanti.

    Saya, Mas Noer dan Keluarga, serta Pakde dan beberapa penumpang lain berswafoto, mengabadikan momen pertemuan kami di atas kapal Pelni Lauser ini. Dari tempat kami berfoto pemandangan bukit-bukit hijau terlihat jelas. Indah sekali. Saya masih ingat hangat betul perasaan saya saat itu, ditambah keramah tamahan orang-orang dinegeri ini amat terasa. Saya bangga menjadi orang Indonesia.


    Kapal berlabuh di Bima, puluhan porter gotong royong mendorong jembatan penyebrangan secara manual. Usai terpasang, mereka berbondong-bondong masuk kedalam kapal menjajakan tawaran untuk membawakan barang.

    Kali ini saya turun dari kapal dan menikmati secangkir kopi diwarung pelabuhan. Bima saat siang hari amat terasa panasnya. Namun karena ini tempat yang baru pertama kali saya kunjungi, saya memilih menikmatinya.

    Diwarung saya berkenalan dengan seorang pria bernama Kici, berasal dari Pulau Rote dan akan merantau ke Merauke. Ternyata ia satu kapal dengan saya, namun didek yang berbeda. Siang itu ia banyak bercerita tentang pengalamannya berlayar dan mengajak saya untuk menikmati malam terakhir dikapal dengan berdendang bersama.


    Malam ini adalah malam terakhir saya, selepas mengobrol dengan Mas Noer dan Pakde saya mengunjungi tempat Kici biasa menghabiskan malam. Kurang lebih pukul 22:00 WITA, 3 jam lagi saya sampai ditempat tujuan saya Labuan Bajo. Kici memperkenalkan saya dengan teman-temannya, teman yang tentu saja baru juga ia kenalnya diatas kapal Amat, Vanneman, dan Veronika.

    Amat adalah seorang pengusaha bawang merah yang akan mencoba peruntungan berjualan di Makassar. Sedangkan Vanneman adalah seorang mahasiswa yang akan pulang ke kampung halamannya di Timika. Terakhir Veronika seorang biarawati yang ingin berkunjung ke tempat saudaranya di Ruteng dan akan turun ditempat yang sama seperti saya di Labuan Bajo.

    "Angin bawa kabar kasana"

    "Bawa beta pung pasan par dia disana"

    "Bilang beta pung rindu bilang beta pung sayang"

    "Biar beta tapisah jauh ale ada di hati..."

    Kici mulai berdendang dengan alunan gitar yang ia petik. Saya tahu betul lagu ini. Lagu yang cukup sering saya dengar. Selera musiknya boleh juga. Kebetulan saat itu ada sinyal internet masuk meskipun tak terlalu bagus cukup untuk mencari lirik agar teman kami lainnya yang tak tahu lagunya bisa ikut menyanyi bersama. Saat reff berlangsung kami semua bernyanyi ditemani semilir angin laut malam hari.

    "Kalo ada yang mo maso minta"

    "Nona tarima saja"

    "Jang ale pikir beta lai"

    "Perkara cinta beta cinta"

    "Mo sayang paling sayang"

    "Marsio mo biking apa"

    "Parcuma beta susah di rantau..."

    Malam itu kami menyanyikan banyak lagu dan tertawa bersama, tak terasa pengumuman kapal akan segera berlabuh di Labuan Bajo pun berbunyi. Sial, waktu berlalu begitu cepat untuk orang yang menikmatinya.

    Saya bangkit dari tempat duduk memeluk mereka satu persatu. Berpamitan dengan Kici, Amat, Vanneman, dan Veronika. Berterima kasih atas malam terakhir yang menyenangkan ini. Rasanya seperti perpisahan diatas kapal Titanic.

    Selesai mengemas barang bawaan saya berpamitan juga dengan Mas Noer dan keluarga serta Pakde. Tujuan saya telah sampai. Diatas kapal Pelni Leuser saya akhirnya menemukan makna saudara sebangsa dan setanah air.


Saya, Amat, Veronika, Kici, dan Vanneman seusai berdendang

   

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo

Kamis, 30 Desember 2021

Berlayar Sekali Lagi (Bagian Pertama)

    Saya masih seringkali membayangkan hari-hari itu. Semilir angin yang menemani pelayaran Surabaya-Labuan Bajo. Diatas kapal Pelni Lauser jurusan Surabaya-Marauke. Hari-hari yang menenangkan itu ingin sekali saya ulangi. Sekali lagi.
    
    Duduk di terminal bis, menunggu transportasi yang akan mengantarkan saya dari Depok menuju bandara udara Soekarno Hatta, Tangerang. Saya melihat salah seorang teman saya sedang membuat Instagram Story tengah berdiri di Pulau Padar salah satu pulau di Taman Nasional Pulau Komodo. Saya iseng bertanya apa ia masih lama berada disana? Lalu sebuah video call Whatsapp masuk. Randy Sanjaya, teman saya yang tengah berada di Pulau Padar tersebut mengabari kalau ia masih lama disana dan mengajak saya untuk segera menyusulnya. Rencana saya yang sebelumnya hanya ingin mengunjungi pernikahan teman saya di Semarang lalu keliling menyusuri pulau Jawa berubah total menjadi sebuah perjalanan yang mengubah banyak hidup saya, perjalanan ke Labuan Bajo.
    Semarang selang dua hari. Saat itu hujan deras saat saya sedang bimbang memutuskan untuk melalui jalur udara atau laut menuju Labuan Bajo. Permasalahannya saat itu jalur udara dari dan menuju luar pulau Jawa-Bali diwajibkan test PCR terlebih dahulu sehingga membuat budget perjalanan melalui jalur udara menjadi bengkak. Sudah tiket pesawatnya mahal, ditambah harus test PCR yang hampir seharga tiketnya pula gumam saya.
    Dalam hidup saya belum pernah sekalipun naik kapal Pelni. Paling mentok hanya kapal ASDP yang menyebrang antar pulau dengan durasi terhitung jam. Namun berlayar berhari-hari diatas kapal Pelni nampaknya harus saya rasakan kali ini demi menghemat budget tentu saja.

    Dari Semarang saya menaiki mobil travel menuju Surabaya dengan budget 150k, siapa sangka ternyata mobil travel yang mengantarkan saya adalah Mitsubishi Pajero, dengan kenyamanan interior didalamnya saya berasa pejabat yang tengah diantar dalam perjalanan dinas.
    Pagi itu matahari belum nampak saat ayam-ayam keras berkokok. Saya menginjakan kaki di kota pahlawan ini setelah kurang lebih 8 jam perjalanan di mobil travel. Waktu yang cukup lama untuk jarak tempuh yang harusnya hanya 4 jam (menurut google maps).
    Jam 06.00 WIB kantor Pelni masih tutup dan buka pukul 08.00 WIB tepat jam keberangkatan kapal Pelni Lauser jurusan Surabaya-Marauke. Mana sempat pikir saya hanya hitungan detik setelah dapat tiket saya harus pergi ke pelabuhan Tanjung Perak untuk segera berangkat. Saya memilih meninggalkan kantor Pelni dan langsung menuju pelabuhan Tanjung Perak, mencoba peruntungan beli tiket langsung diatas kapal. Kelalain saya tidak mencoba membeli secara online sebelumnya harus dibayar mahal dengan harap-harap cemas.

    Tidak ada penjualan tiket di pelabuhan Tanjung Perak. Rasanya saat itu saya sudah pesimis bisa berangkat menuju Labuan Bajo. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saya bertemu Mas Ato salah seorang petugas pengecek tiket di pelabuhan Tanjung Perak. Ia membantu saya menghubungi temannya yang bertugas di kantor Pelni. Ternyata walaupun buka pukul 08.00 WIB kantor Pelni menerima pelayanan pembelian tiket pagi itu. Saya berhutang budi pada Mas Ato, saya bisa berlayar berkat bantuannya.
    Kapal Pelni Lauser dek 4 tempat tidur nomer 20 menjadi milik saya selama 3 hari berlayar kedepan. Ruangan yang cukup besar dengan ac didalamnya. Rasanya saat itu terasa nyaman-nyaman saja apalagi ternyata kamar mandinya sangat bersih seperti berada di dalam mall.

    Tepat pukul 08.00 WIB suara klakson kapal berbunyi tanda kapal mulai berlayar. Khawatir selama pelayaran tidak ada sinyal saya mengirim pesan Whatsapp ke teman saya Randy "Kapal saya berangkat, sampai jumpa 3 hari lagi!"
    Pagi itu setelah mengirim pesan yang saya lakukan adalah tidur. Melepas semua beban kekhawatiran sebelum memulai sebuah pengalaman baru berlayar di lautan berhari-hari.

    Bersambung...

Salah satu spot diatas kapal Pelni Lauser

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo

Minggu, 27 Juni 2021

Mencari Makna dalam Bekerja

    “Pekerjaan itu tidak memberiku kelimpahan tapi memberiku keamanan finansial sekaligus kehidupan yang itu-itu saja.” Kata Andrea Hirata dalam novel Edensor karyanya.
    Kata-kata itu terus membekas dipikiranku. Belakangan setelah selesai sekolah, tahun demi tahun saya habiskan hanya untuk bekerja. Tidak terasa usia sudah menginjak 25, namun hidup terasa semakin hampa.
    Ditemani secangkir kopi panas saya merenungi hidup ini. Dewasa apakah harus seperti ini? Kerja, kerja, dan kerja. Dengan kerja kita bisa membeli apa yang kita butuhkan, tapi apakah dengan kerja kita bisa membeli apa yang kita inginkan?

   Saya membuka profil Instagram pribadi saya, melihat foto-foto betapa banyak perjalanan yang telah saya lalui. Disela-sela libur pekerjaan saya biasa melakukan hobi travelling seperti hiking, snorkeling, maupun kegiatan alam lainnya. Hal-hal tersebut membuat hidup saya terasa lebih bermakna.
    Makna, sebuah kata sederhana namun penuh arti. Kalau dalam travelling saya bisa menemukan makna, apakah dalam bekerja saya juga bisa menemuinya?
    Mungkin terdengar naif, di era pandemi ini dimana orang banyak yang membutuhkan kerja saya justru mengeluh tentang pekerjaan itu sendiri. Namun seiring berjalannya waktu bukankah pekerjaan juga sudah berubah maknanya?
    Dijaman orang tua kita dahulu mungkin bekerja disebuah perusahaan besar dengan gaji tinggi serta sederet fasilitas kelas atas lainnya merupakan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Namun jaman telah berubah, sekarang telah banyak anak muda yang cukup bermodalkan internet membuat satu video di YouTube bisa mendapatkan hasil yang bahkan bisa setara dengan penghasilan kita selama setahun? Lucu bukan.

    Pekerjaan memang begitu banyak dan beragam yang bisa dijalankan. Namun menemukan pekerjaan yang membuat hidup saya bermakna begitu sulit didapatkan. Ya semoga kelak saat saya sudah menemukannya saya bisa sedikit tersenyum saat kembali membaca tulisan tak bermakna ini.


Saya dan salah satu rekan kerja


Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo

Kamis, 12 Desember 2019

Bernostalgia dengan Makanan


Pagi itu udara dingin menusuk. Saya dan ketiga sahabat saya berada di camp area Plawangan Senaru, Gunung Rinjani. Saat itu kami baru membuka mata berdiam diri sejenak di dalam tenda sembari menunggu mentari menampakan dirinya agar kehangatannya dapat kami rasakan.
Pagi itu hari terakhir kami berada di Gunung Rinjani. Sudah masuk hari ke-4 kami berada di gunung ini. Sebelum perjalanan jauh menembus hutan untuk keluar kami harus sarapan terlebih dahulu untuk mengisi energi.
Logistik kami habis. Hanya tersisa beras dan bumbu dapur (masako, royco, dan saori) bahkan mie instan pun tak tersisa satu pun.
Waktu itu Oktober 2016 Gunung Rinjani ditutup karena meletusnya Gunung Barujari sebuah anak gunung yang berada dikawasan Gunung Rinjani. Kenekatan kami untuk tetap mendaki berakibat kurangnya persiapan kami dalam menyiapkan logistik karena semua serba terburu-buru agar terhindar dari razia polisi hutan.
Pemandangan di Plawangan Senaru luar biasa indah kami bisa melihat danau dari atas bukit. Sambil melihat pemandangan yang indah kami masak sarapan pagi dengan menu yang tersisa; nasi yang diaduk dengan masako, royco, dan saori. Makanannya terasa sangat gurih. Cuma ini satu-satunya makanan yang bisa kami makan untuk mengisi energi mengingat di Plawangan Senaru ini hanya ada tenda kami dan tidak ada orang lain yang bisa kami mintai lauk pauk.
                Saya masih ingat di kantong celana saat itu memegang uang tunai sebesar 1 juta. Untuk pertama kali dalam hidup saya merasakan uang yang saya punya tidak salalu bisa membeli apa yang saya inginkan. Terlepas dari tidak adanya pedagang disana alam mengajarkan kami untuk tidak terlalu bergantung kepada uang. Bahwa kalau kami mau berusaha mencari makan di alam, alam memberi segalanya secara gratis dan tidak memungut biaya sepeser pun.

                Sedikit mundur ke Desember 2012 tepatnya menjelang pergantian tahun. Saya dan teman-teman sekolah ingin merayakan tahun baru di Pulau Bali. Saat itu saya bersekolah di Kota Semarang. Saya pamit dengan orang tua dan diberi uang saku hanya 25 ribu. Bagaimana ceritanya saya bisa sampai ke Pulau Bali? Panjang sekali. Tapi bukan bagaimana caranya saya sampai ke Pulau Bali yang ingin saya ceritakan.
                Untuk makan sehari-hari saya dan teman-teman sudah mendapat sponsor dari salah satu ibu teman saya. Saya dan teman-teman saya yang berpergian dengan uang saku seadanya sadar diri dan tak pernah menuntut harus makan ini atau itu. Pergi ke Pulau Bali dengan uang saku seadanya sebenarnya sudah cukup untuk kami di cap tak tau diri.
                Sampai disuatu malam satu hari sebelum tahun baru yang biasanya kami rutin makan nasi kucing dipinggiran Pantai Kuta, kami diajak makan disebuah restoran seafood ternama. Blue Marlin Café yang terletak di Jimbaran. Sebuah café di tepi pantai. Salah seorang teman kami kedatangan saudara yang kebetulan juga sedang ingin merayakan tahun baru di Pulau Bali. Yang juga kebetulan tidak tau kami tidak punya banyak uang dan ingin makan enak.
                Kami kalap. Dari makanan pembuka, menu utama, sampai penutup yang tersaji bersih tak tersisa. Tawa kami semua seketika melebar. Saudara teman kami membayar bill dengan total tagihan sekitar 3 sampai 4 juta. Saya lupa angka persisnya tapi waktu itu kami juga tidak peduli angka persisnya.

                Beberapa minggu lalu saya dan salah satu sahabat saya yang sama-sama pernah merasakan makan nasi yang diaduk dengan masako, royco, dan saori diajak makan disebuah restoran seafood ternama oleh sebuah perusahaan plat merah setelah melakukan kegiatan tanam mangrove bersama. Jemahdi Seafood yang terletak di Pantai Indah Kapuk. Seketika saya teringat waktu makan di Blue Marlin Café beberapa tahun lalu dan ingin sedikit berbagi cerita tentang makanan yang membuat saya bernostalgia.
                Makan nasi yang diaduk dengan masako, royco, dan saori atau makan di restoran seafood ternama adalah cara saya mengenang masa muda penuh petualangan.


Saya dan salah satu teman di Jemahdi Seafood

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo

Minggu, 16 Juni 2019

Pulau Condong Sulah dan Industri di Kawasan Wisata

Hari ini tepat satu minggu, dari perjalanan saya dan ketiga teman plesiran ke Pulau Condong Sulah di Tarahan, Lampung Selatan. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan libur lebaran kemarin. Tentang sebuah kawasan wisata yang mungkin kelak akan berubah menjadi kawasan industi.

Kami menginjakan kaki di Pulau Sumatera saat matahari mulai terbit. Tujuan awal kami adalah Kiluan, Tanggamus. Bakauheni pagi itu diselimuti kabut. Jalan tol yang tahun lalu baru sampai Kalianda, Lampung Selatan sekarang sudah sampai Sumatera Selatan. Pembangunan sangat terasa disini.
Motor kami pacu perlahan sembari mencari rumah makan untuk sarapan. Percaya atau tidak puluhan kilometer kami tidak menemukan satu pun warung makan kecuali penjual pop mie sepanjang jalan. Rasanya nasi menjadi barang langkah disini. Mungkin bisa dimaklumi waktu itu masih terlalu pagi dan dalam suasana merayakan hari lebaran.
Rumah Makan Padang di Tarahan menjadi tempat pilihan kami untuk bersantap. Pun harus dilalui dengan drama kehabisan nasi. Sang penjual meminta ijin untuk keluar terlebih dahulu mencari nasi. Di dalam kursi terisi penuh oleh tamu lainnya. Kami menunggu diluar hampir 30 menit sampai sang penjual datang dengan nasi bawaannya.
Seusai perut terisi saya membuka google maps mengecek seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kami lalui. Namun alih-alih mengecek, fokus saya justru teralihkan oleh 3 pulau yang letaknya tidak jauh dari posisi kami berada yaitu Pulau Condong Sulah, Pulau Condong Darat, dan Pulau Condong Laut.
Kami bertanya pada sang penjual bagaimana cara kami untuk pergi ke pulau tersebut. Ternyata kami cukup masuk kawasan Pantai Pasir Putih yang hanya berjarak 5 menit lalu menyewa kapal untuk menyeberang. Perjalanan ke Kiluan pun terpaksa kami tunda sementara waktu.

Memasuki kawasan Pantai Pasir Putih kami membayar retribusi sebesar 10k/ orang. Di pantai ini kami tak perlu dipusingkan mencari tukang kapal. Tukang kapal itu sendiri yang mencari penumpangnya. Tukang kapal pertama meminta 300k untuk jasa penyeberangan pp. Kami menolaknya. Jarak pulau-pulau tersebut tidak begitu jauh menurut kami. Tak berselang lama datang tukang kapal kedua menawarkan jasa yang sama dengan harga 50k/ orang. Kami memilih tukang kapal kedua. Lebih hemat untuk kami.
Kami juga disarankan untuk memarkirkan motor kami dirumah milik tukang kapal tersebut yang berada disamping Pantai Pasir Putih ini. Karena tau kami akan camping, tidak aman meninggalkan motor diparkiran pantai katanya.
Rumah sang tukang kapal tepat berada disamping pabrik semen. Bagaimana bisa kawasan wisata berdampingan dengan industri? Bukan cuma satu pabrik semen, namun tiga! Semen Tiga Roda, Semen Padang, dan Semen Holcim.
Kapal mulai melaju perlahan menjauhi bibir pantai. Dari kejauhan terlihat kapal-kapal tongkang parkir sebagian terisi batu bara. Pltu Tarahan berdiri gagah membelakangi kami. Saat itu saya sadar, kawasan wisata ini memiliki tetangga bernama pabrik semen dan pltu dikanan dan kirinya.
Kami bertanya kepada tukang kapal ke pulau mana yang akan kami kunjungi terlebih dahulu? Hanya ke Pulau Condong Sulah jawabnya. Karena katanya Pulau Condong Darat dan Pulau Condong Laut bukan pulau untuk umum. Pulau tersebut dimiliki keluarga cendana. Selain memiliki pulau di kawasan Kepulauan Seribu ternyata keluarga mantan presiden tersebut juga punya pulau disini. Terlepas benar atau tidakya memiliki sebuah pulau adalah sebuah  bentuk ketamakan.
Saya pernah menonton film Watchdoc Documentary di Youtube berjudul Onde Mandeh, tentang salah satu pulau di Sumatera Barat yang dikuasai asing. Sama dengan Pulau Condong Darat dan Pulau Condong Laut, pulau tersebut bukan untuk umum butuh ijin khusus untuk masuk kawasan tersebut. Ternyata di negeri sendiri pun kita masih jadi turis.

Pulau Condong Sulah terlihat bersih dikelilingi lautan berair biru yang jernih. Sang penjaga pulau meminta biaya retribusi sebesar 10k/ orang. Seusai membayar kami bergegas mencari tempat untuk mendirikan tenda. Tepat didepan cottage yang sudah tak terurus kami dirikan tenda tersebut.
Saya menyewa sebuah kano dengan biaya 35k/ 2 jam untuk mencoba memutari pulau ini. Saat itu siang terik matahari terasa menyengat, namun karena berada di air saya tidak merasa kepanasan. Ini adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya. Mencoba memberanikan diri mengelilingi pulau seorang diri. Teman-teman yang lain sedang sibuk dengan masakannya.
Sambil mendayung saya dibuat takjub dengan Pulau Condong Sulah tersebut. Seekor elang terbang rendah melewati atas kepala saya untuk kembali ke sarangnya. Disalah satu sisi pulau tersebut menjulang seperti jurang mirip Pulau Rakata di kawasan cagar alam Gunung Krakatau.
Ombak berkali-kali mencoba membalikan kano saya, kadang rasa panik muncul. Tapi saat kita memberanikan diri rasanya semua jadi terkendali.
Saat berhasil mengelilingi pulau, saya melanjutkan bersnorkeling di bibir pantai. Sayang, terumbu karang banyak yang mati. Tidak ada ikan. Pola hidup masyarakat sekitar, pencemaran, serta kebiasaan menangkap ikan yang salah mungkin menjadi penyebab hancurnya terumbu karang. Padahal terumbu karang merupakan rumah ikan karena menghasilkan plankton untuk makanan mereka. Tanpa terumbu karang, laut menjadi mati dan kosong.

Malam hari tiba. Harusnya suasana hening pulau di tengah-tengah laut kami dapat. Tapi justru kami mendengar musik dangdut menggelegar berasal dari kapal tongkang yang terlihat dari tempat kami mendirikan tenda. Sialan betul orang-orang yang menyetel musik dangdut tersebut.
Selepas makan malam kami langsung beristirahat karena tak ada hal lain yang bisa kami lakukan. Tak ada listrik dan baterai hp kami tinggal tersisa sedikit.

Hari baru menyapa. Kami menghabiskan pagi dengan bermain pasir dan berswafoto. Lagi-lagi kapal tongkang itu mengganggu. Kali ini background foto pegunungan di kejauhan harus berbagi frame dengan kapal sialan itu.
Seusai menghabiskan sarapan tak lama kapal menjemput kami pulang. Cerita di Pulau Condong Sulah berakhir. Kami sampai dirumah tukang kapal tersebut untuk mengambil motor. Sembari beristirahat sebentar saya menuntaskan rasa penasaran saya akan kehidupan masyarakat sekitar yang hidup diapit pabrik semen dan pltu ini dengan bertanya-tanya.
Saya lupa nama tukang kapal tersebut, ia dan beberapa warga yang tengah asik minum kopi bercerita bahwa masyarakat sekitar tidak mengizinkan dibangunnya pabrik semen tersebut. Tapi apa daya orang kecil suaranya tak dihiraukan. Padahal sudah jelas kawasan Pantai Pasir Putih adalah kawasan wisata. Wisata alam. Pemerintah apa tidak mengkaji saat memberi izin? Saat pabrik semen beroperasi, pasti berpotensi berdampak buruk bagi masyarakat sekitar. Terutama kesehatan dan kenyamanan serta kelangsungan hidup. Belum lagi pengrusakan lingkungan baik terhadap pantai maupun biota laut. Selain mengandalkan sektor pariwisata untuk menopang ekomoni mayoritas masyarakat sekitar masih menggantungkan hidup dengan menjadi nelayan. Mengapa membangun pabrik semen disini, sementara masih banyak lokasi yang memenuhi syarat?

Mungkin ini adalah kunjungan pertama sekaligus terakhir kami ke Pulau Condong Sulah. Karena ke depannya kita tak pernah tau akan seperti apa kawasan wisata yang mencoba mengakrabkan diri dengan industri ini. Tetap bertahan menjadi kawasan wisata kah atau justru malah berubah menjadi kawasan industri? "Laut adalah masa depan." Demikian Bung Karno dulu selalu ucapkan. Kita tak perlu menjadi marinir untuk menjaga laut. Kita hanya perlu peduli.

Pulau Condong Sulah

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo