Hari ini tepat satu minggu, dari perjalanan saya
dan ketiga teman plesiran ke Pulau Condong Sulah di Tarahan, Lampung
Selatan. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan libur lebaran kemarin.
Tentang sebuah kawasan wisata yang mungkin kelak akan berubah menjadi kawasan
industi.
Kami menginjakan kaki di Pulau Sumatera saat matahari
mulai terbit. Tujuan awal kami adalah Kiluan, Tanggamus. Bakauheni pagi itu
diselimuti kabut. Jalan tol yang tahun lalu baru sampai Kalianda, Lampung
Selatan sekarang sudah sampai Sumatera Selatan. Pembangunan sangat terasa
disini.
Motor kami pacu perlahan sembari mencari
rumah makan untuk sarapan. Percaya atau tidak puluhan kilometer kami tidak
menemukan satu pun warung makan kecuali penjual pop mie sepanjang jalan.
Rasanya nasi menjadi barang langkah disini. Mungkin bisa dimaklumi waktu itu
masih terlalu pagi dan dalam suasana merayakan hari lebaran.
Rumah Makan Padang di Tarahan menjadi
tempat pilihan kami untuk bersantap. Pun harus dilalui dengan drama kehabisan
nasi. Sang penjual meminta ijin untuk keluar terlebih dahulu mencari nasi. Di
dalam kursi terisi penuh oleh tamu lainnya. Kami menunggu diluar hampir 30
menit sampai sang penjual datang dengan nasi bawaannya.
Seusai perut terisi saya membuka google
maps mengecek seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kami lalui. Namun
alih-alih mengecek, fokus saya justru teralihkan oleh 3 pulau yang letaknya
tidak jauh dari posisi kami berada yaitu Pulau Condong Sulah, Pulau Condong
Darat, dan Pulau Condong Laut.
Kami bertanya pada sang penjual bagaimana
cara kami untuk pergi ke pulau tersebut. Ternyata kami cukup masuk kawasan
Pantai Pasir Putih yang hanya berjarak 5 menit lalu menyewa kapal untuk
menyeberang. Perjalanan ke Kiluan pun terpaksa kami tunda sementara waktu.
Memasuki kawasan Pantai Pasir Putih kami membayar retribusi
sebesar 10k/ orang. Di pantai ini kami tak perlu dipusingkan mencari tukang
kapal. Tukang kapal itu sendiri yang mencari penumpangnya. Tukang kapal pertama
meminta 300k untuk jasa penyeberangan pp. Kami menolaknya. Jarak pulau-pulau
tersebut tidak begitu jauh menurut kami. Tak berselang lama datang tukang kapal
kedua menawarkan jasa yang sama dengan harga 50k/ orang. Kami memilih tukang
kapal kedua. Lebih hemat untuk kami.
Kami juga disarankan untuk memarkirkan
motor kami dirumah milik tukang kapal tersebut yang berada disamping Pantai
Pasir Putih ini. Karena tau kami akan camping, tidak aman meninggalkan motor
diparkiran pantai katanya.
Rumah sang tukang kapal tepat berada disamping pabrik semen.
Bagaimana bisa kawasan wisata berdampingan dengan industri? Bukan cuma satu
pabrik semen, namun tiga! Semen Tiga Roda, Semen Padang, dan Semen Holcim.
Kapal mulai melaju perlahan menjauhi bibir
pantai. Dari kejauhan terlihat kapal-kapal tongkang parkir sebagian terisi batu
bara. Pltu Tarahan berdiri gagah membelakangi kami. Saat itu saya sadar,
kawasan wisata ini memiliki tetangga bernama pabrik semen dan pltu dikanan dan
kirinya.
Kami bertanya kepada tukang kapal ke pulau
mana yang akan kami kunjungi terlebih dahulu? Hanya ke Pulau Condong Sulah
jawabnya. Karena katanya Pulau Condong Darat dan Pulau Condong Laut bukan pulau
untuk umum. Pulau tersebut dimiliki keluarga cendana. Selain memiliki pulau di
kawasan Kepulauan Seribu ternyata keluarga mantan presiden tersebut juga punya
pulau disini. Terlepas benar atau tidakya memiliki sebuah pulau adalah
sebuah bentuk ketamakan.
Saya pernah menonton film Watchdoc Documentary di Youtube berjudul Onde Mandeh, tentang salah satu pulau di
Sumatera Barat yang dikuasai asing. Sama dengan Pulau Condong Darat dan Pulau
Condong Laut, pulau tersebut bukan untuk umum butuh ijin khusus untuk masuk
kawasan tersebut. Ternyata di negeri sendiri pun kita masih jadi turis.
Pulau Condong Sulah terlihat bersih dikelilingi lautan
berair biru yang jernih. Sang penjaga pulau meminta biaya retribusi sebesar
10k/ orang. Seusai membayar kami bergegas mencari tempat untuk mendirikan
tenda. Tepat didepan cottage yang sudah tak terurus kami dirikan tenda tersebut.
Saya menyewa sebuah kano dengan biaya 35k/
2 jam untuk mencoba memutari pulau ini. Saat itu siang terik matahari terasa
menyengat, namun karena berada di air saya tidak merasa kepanasan. Ini adalah
pengalaman terbaik dalam hidup saya. Mencoba memberanikan diri mengelilingi
pulau seorang diri. Teman-teman yang lain sedang sibuk dengan masakannya.
Sambil mendayung saya dibuat takjub dengan
Pulau Condong Sulah tersebut. Seekor elang terbang rendah melewati atas kepala
saya untuk kembali ke sarangnya. Disalah satu sisi pulau tersebut menjulang
seperti jurang mirip Pulau Rakata di kawasan cagar alam Gunung Krakatau.
Ombak berkali-kali mencoba membalikan kano
saya, kadang rasa panik muncul. Tapi saat kita memberanikan diri rasanya semua
jadi terkendali.
Saat berhasil mengelilingi pulau, saya
melanjutkan bersnorkeling di bibir pantai. Sayang, terumbu karang banyak yang
mati. Tidak ada ikan. Pola hidup masyarakat sekitar, pencemaran, serta
kebiasaan menangkap ikan yang salah mungkin menjadi penyebab hancurnya terumbu
karang. Padahal terumbu karang merupakan rumah ikan karena menghasilkan
plankton untuk makanan mereka. Tanpa terumbu karang, laut menjadi mati dan
kosong.
Malam hari tiba. Harusnya suasana hening pulau di
tengah-tengah laut kami dapat. Tapi justru kami mendengar musik dangdut
menggelegar berasal dari kapal tongkang yang terlihat dari tempat kami
mendirikan tenda. Sialan betul orang-orang yang menyetel musik dangdut tersebut.
Selepas makan malam kami langsung
beristirahat karena tak ada hal lain yang bisa kami lakukan. Tak ada listrik
dan baterai hp kami tinggal tersisa sedikit.
Hari baru menyapa. Kami menghabiskan pagi dengan
bermain pasir dan berswafoto. Lagi-lagi kapal tongkang itu mengganggu. Kali ini
background foto pegunungan di kejauhan harus berbagi frame dengan kapal sialan
itu.
Seusai menghabiskan sarapan tak lama kapal
menjemput kami pulang. Cerita di Pulau Condong Sulah berakhir. Kami sampai
dirumah tukang kapal tersebut untuk mengambil motor. Sembari beristirahat
sebentar saya menuntaskan rasa penasaran saya akan kehidupan masyarakat sekitar
yang hidup diapit pabrik semen dan pltu ini dengan bertanya-tanya.
Saya lupa nama tukang kapal tersebut, ia
dan beberapa warga yang tengah asik minum kopi bercerita bahwa masyarakat
sekitar tidak mengizinkan dibangunnya pabrik semen tersebut. Tapi apa daya
orang kecil suaranya tak dihiraukan. Padahal sudah jelas kawasan Pantai Pasir Putih adalah kawasan wisata. Wisata alam. Pemerintah apa tidak mengkaji saat
memberi izin? Saat pabrik semen beroperasi, pasti berpotensi berdampak buruk
bagi masyarakat sekitar. Terutama kesehatan dan kenyamanan serta kelangsungan
hidup. Belum lagi pengrusakan lingkungan baik terhadap pantai maupun biota
laut. Selain mengandalkan sektor pariwisata untuk menopang ekomoni mayoritas
masyarakat sekitar masih menggantungkan hidup dengan menjadi nelayan. Mengapa
membangun pabrik semen disini, sementara masih banyak lokasi yang memenuhi
syarat?
Mungkin ini adalah kunjungan pertama sekaligus terakhir
kami ke Pulau Condong Sulah. Karena ke depannya kita tak pernah tau akan
seperti apa kawasan wisata yang mencoba mengakrabkan diri dengan industri ini.
Tetap bertahan menjadi kawasan wisata kah atau justru malah berubah menjadi
kawasan industri? "Laut adalah masa depan." Demikian Bung Karno dulu
selalu ucapkan. Kita tak perlu menjadi marinir untuk menjaga laut. Kita hanya
perlu peduli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar