Kamis, 12 Desember 2019

Bernostalgia dengan Makanan


Pagi itu udara dingin menusuk. Saya dan ketiga sahabat saya berada di camp area Plawangan Senaru, Gunung Rinjani. Saat itu kami baru membuka mata berdiam diri sejenak di dalam tenda sembari menunggu mentari menampakan dirinya agar kehangatannya dapat kami rasakan.
Pagi itu hari terakhir kami berada di Gunung Rinjani. Sudah masuk hari ke-4 kami berada di gunung ini. Sebelum perjalanan jauh menembus hutan untuk keluar kami harus sarapan terlebih dahulu untuk mengisi energi.
Logistik kami habis. Hanya tersisa beras dan bumbu dapur (masako, royco, dan saori) bahkan mie instan pun tak tersisa satu pun.
Waktu itu Oktober 2016 Gunung Rinjani ditutup karena meletusnya Gunung Barujari sebuah anak gunung yang berada dikawasan Gunung Rinjani. Kenekatan kami untuk tetap mendaki berakibat kurangnya persiapan kami dalam menyiapkan logistik karena semua serba terburu-buru agar terhindar dari razia polisi hutan.
Pemandangan di Plawangan Senaru luar biasa indah kami bisa melihat danau dari atas bukit. Sambil melihat pemandangan yang indah kami masak sarapan pagi dengan menu yang tersisa; nasi yang diaduk dengan masako, royco, dan saori. Makanannya terasa sangat gurih. Cuma ini satu-satunya makanan yang bisa kami makan untuk mengisi energi mengingat di Plawangan Senaru ini hanya ada tenda kami dan tidak ada orang lain yang bisa kami mintai lauk pauk.
                Saya masih ingat di kantong celana saat itu memegang uang tunai sebesar 1 juta. Untuk pertama kali dalam hidup saya merasakan uang yang saya punya tidak salalu bisa membeli apa yang saya inginkan. Terlepas dari tidak adanya pedagang disana alam mengajarkan kami untuk tidak terlalu bergantung kepada uang. Bahwa kalau kami mau berusaha mencari makan di alam, alam memberi segalanya secara gratis dan tidak memungut biaya sepeser pun.

                Sedikit mundur ke Desember 2012 tepatnya menjelang pergantian tahun. Saya dan teman-teman sekolah ingin merayakan tahun baru di Pulau Bali. Saat itu saya bersekolah di Kota Semarang. Saya pamit dengan orang tua dan diberi uang saku hanya 25 ribu. Bagaimana ceritanya saya bisa sampai ke Pulau Bali? Panjang sekali. Tapi bukan bagaimana caranya saya sampai ke Pulau Bali yang ingin saya ceritakan.
                Untuk makan sehari-hari saya dan teman-teman sudah mendapat sponsor dari salah satu ibu teman saya. Saya dan teman-teman saya yang berpergian dengan uang saku seadanya sadar diri dan tak pernah menuntut harus makan ini atau itu. Pergi ke Pulau Bali dengan uang saku seadanya sebenarnya sudah cukup untuk kami di cap tak tau diri.
                Sampai disuatu malam satu hari sebelum tahun baru yang biasanya kami rutin makan nasi kucing dipinggiran Pantai Kuta, kami diajak makan disebuah restoran seafood ternama. Blue Marlin Café yang terletak di Jimbaran. Sebuah café di tepi pantai. Salah seorang teman kami kedatangan saudara yang kebetulan juga sedang ingin merayakan tahun baru di Pulau Bali. Yang juga kebetulan tidak tau kami tidak punya banyak uang dan ingin makan enak.
                Kami kalap. Dari makanan pembuka, menu utama, sampai penutup yang tersaji bersih tak tersisa. Tawa kami semua seketika melebar. Saudara teman kami membayar bill dengan total tagihan sekitar 3 sampai 4 juta. Saya lupa angka persisnya tapi waktu itu kami juga tidak peduli angka persisnya.

                Beberapa minggu lalu saya dan salah satu sahabat saya yang sama-sama pernah merasakan makan nasi yang diaduk dengan masako, royco, dan saori diajak makan disebuah restoran seafood ternama oleh sebuah perusahaan plat merah setelah melakukan kegiatan tanam mangrove bersama. Jemahdi Seafood yang terletak di Pantai Indah Kapuk. Seketika saya teringat waktu makan di Blue Marlin Café beberapa tahun lalu dan ingin sedikit berbagi cerita tentang makanan yang membuat saya bernostalgia.
                Makan nasi yang diaduk dengan masako, royco, dan saori atau makan di restoran seafood ternama adalah cara saya mengenang masa muda penuh petualangan.


Saya dan salah satu teman di Jemahdi Seafood

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo

Minggu, 16 Juni 2019

Pulau Condong Sulah dan Industri di Kawasan Wisata

Hari ini tepat satu minggu, dari perjalanan saya dan ketiga teman plesiran ke Pulau Condong Sulah di Tarahan, Lampung Selatan. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan libur lebaran kemarin. Tentang sebuah kawasan wisata yang mungkin kelak akan berubah menjadi kawasan industi.

Kami menginjakan kaki di Pulau Sumatera saat matahari mulai terbit. Tujuan awal kami adalah Kiluan, Tanggamus. Bakauheni pagi itu diselimuti kabut. Jalan tol yang tahun lalu baru sampai Kalianda, Lampung Selatan sekarang sudah sampai Sumatera Selatan. Pembangunan sangat terasa disini.
Motor kami pacu perlahan sembari mencari rumah makan untuk sarapan. Percaya atau tidak puluhan kilometer kami tidak menemukan satu pun warung makan kecuali penjual pop mie sepanjang jalan. Rasanya nasi menjadi barang langkah disini. Mungkin bisa dimaklumi waktu itu masih terlalu pagi dan dalam suasana merayakan hari lebaran.
Rumah Makan Padang di Tarahan menjadi tempat pilihan kami untuk bersantap. Pun harus dilalui dengan drama kehabisan nasi. Sang penjual meminta ijin untuk keluar terlebih dahulu mencari nasi. Di dalam kursi terisi penuh oleh tamu lainnya. Kami menunggu diluar hampir 30 menit sampai sang penjual datang dengan nasi bawaannya.
Seusai perut terisi saya membuka google maps mengecek seberapa jauh lagi perjalanan yang akan kami lalui. Namun alih-alih mengecek, fokus saya justru teralihkan oleh 3 pulau yang letaknya tidak jauh dari posisi kami berada yaitu Pulau Condong Sulah, Pulau Condong Darat, dan Pulau Condong Laut.
Kami bertanya pada sang penjual bagaimana cara kami untuk pergi ke pulau tersebut. Ternyata kami cukup masuk kawasan Pantai Pasir Putih yang hanya berjarak 5 menit lalu menyewa kapal untuk menyeberang. Perjalanan ke Kiluan pun terpaksa kami tunda sementara waktu.

Memasuki kawasan Pantai Pasir Putih kami membayar retribusi sebesar 10k/ orang. Di pantai ini kami tak perlu dipusingkan mencari tukang kapal. Tukang kapal itu sendiri yang mencari penumpangnya. Tukang kapal pertama meminta 300k untuk jasa penyeberangan pp. Kami menolaknya. Jarak pulau-pulau tersebut tidak begitu jauh menurut kami. Tak berselang lama datang tukang kapal kedua menawarkan jasa yang sama dengan harga 50k/ orang. Kami memilih tukang kapal kedua. Lebih hemat untuk kami.
Kami juga disarankan untuk memarkirkan motor kami dirumah milik tukang kapal tersebut yang berada disamping Pantai Pasir Putih ini. Karena tau kami akan camping, tidak aman meninggalkan motor diparkiran pantai katanya.
Rumah sang tukang kapal tepat berada disamping pabrik semen. Bagaimana bisa kawasan wisata berdampingan dengan industri? Bukan cuma satu pabrik semen, namun tiga! Semen Tiga Roda, Semen Padang, dan Semen Holcim.
Kapal mulai melaju perlahan menjauhi bibir pantai. Dari kejauhan terlihat kapal-kapal tongkang parkir sebagian terisi batu bara. Pltu Tarahan berdiri gagah membelakangi kami. Saat itu saya sadar, kawasan wisata ini memiliki tetangga bernama pabrik semen dan pltu dikanan dan kirinya.
Kami bertanya kepada tukang kapal ke pulau mana yang akan kami kunjungi terlebih dahulu? Hanya ke Pulau Condong Sulah jawabnya. Karena katanya Pulau Condong Darat dan Pulau Condong Laut bukan pulau untuk umum. Pulau tersebut dimiliki keluarga cendana. Selain memiliki pulau di kawasan Kepulauan Seribu ternyata keluarga mantan presiden tersebut juga punya pulau disini. Terlepas benar atau tidakya memiliki sebuah pulau adalah sebuah  bentuk ketamakan.
Saya pernah menonton film Watchdoc Documentary di Youtube berjudul Onde Mandeh, tentang salah satu pulau di Sumatera Barat yang dikuasai asing. Sama dengan Pulau Condong Darat dan Pulau Condong Laut, pulau tersebut bukan untuk umum butuh ijin khusus untuk masuk kawasan tersebut. Ternyata di negeri sendiri pun kita masih jadi turis.

Pulau Condong Sulah terlihat bersih dikelilingi lautan berair biru yang jernih. Sang penjaga pulau meminta biaya retribusi sebesar 10k/ orang. Seusai membayar kami bergegas mencari tempat untuk mendirikan tenda. Tepat didepan cottage yang sudah tak terurus kami dirikan tenda tersebut.
Saya menyewa sebuah kano dengan biaya 35k/ 2 jam untuk mencoba memutari pulau ini. Saat itu siang terik matahari terasa menyengat, namun karena berada di air saya tidak merasa kepanasan. Ini adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya. Mencoba memberanikan diri mengelilingi pulau seorang diri. Teman-teman yang lain sedang sibuk dengan masakannya.
Sambil mendayung saya dibuat takjub dengan Pulau Condong Sulah tersebut. Seekor elang terbang rendah melewati atas kepala saya untuk kembali ke sarangnya. Disalah satu sisi pulau tersebut menjulang seperti jurang mirip Pulau Rakata di kawasan cagar alam Gunung Krakatau.
Ombak berkali-kali mencoba membalikan kano saya, kadang rasa panik muncul. Tapi saat kita memberanikan diri rasanya semua jadi terkendali.
Saat berhasil mengelilingi pulau, saya melanjutkan bersnorkeling di bibir pantai. Sayang, terumbu karang banyak yang mati. Tidak ada ikan. Pola hidup masyarakat sekitar, pencemaran, serta kebiasaan menangkap ikan yang salah mungkin menjadi penyebab hancurnya terumbu karang. Padahal terumbu karang merupakan rumah ikan karena menghasilkan plankton untuk makanan mereka. Tanpa terumbu karang, laut menjadi mati dan kosong.

Malam hari tiba. Harusnya suasana hening pulau di tengah-tengah laut kami dapat. Tapi justru kami mendengar musik dangdut menggelegar berasal dari kapal tongkang yang terlihat dari tempat kami mendirikan tenda. Sialan betul orang-orang yang menyetel musik dangdut tersebut.
Selepas makan malam kami langsung beristirahat karena tak ada hal lain yang bisa kami lakukan. Tak ada listrik dan baterai hp kami tinggal tersisa sedikit.

Hari baru menyapa. Kami menghabiskan pagi dengan bermain pasir dan berswafoto. Lagi-lagi kapal tongkang itu mengganggu. Kali ini background foto pegunungan di kejauhan harus berbagi frame dengan kapal sialan itu.
Seusai menghabiskan sarapan tak lama kapal menjemput kami pulang. Cerita di Pulau Condong Sulah berakhir. Kami sampai dirumah tukang kapal tersebut untuk mengambil motor. Sembari beristirahat sebentar saya menuntaskan rasa penasaran saya akan kehidupan masyarakat sekitar yang hidup diapit pabrik semen dan pltu ini dengan bertanya-tanya.
Saya lupa nama tukang kapal tersebut, ia dan beberapa warga yang tengah asik minum kopi bercerita bahwa masyarakat sekitar tidak mengizinkan dibangunnya pabrik semen tersebut. Tapi apa daya orang kecil suaranya tak dihiraukan. Padahal sudah jelas kawasan Pantai Pasir Putih adalah kawasan wisata. Wisata alam. Pemerintah apa tidak mengkaji saat memberi izin? Saat pabrik semen beroperasi, pasti berpotensi berdampak buruk bagi masyarakat sekitar. Terutama kesehatan dan kenyamanan serta kelangsungan hidup. Belum lagi pengrusakan lingkungan baik terhadap pantai maupun biota laut. Selain mengandalkan sektor pariwisata untuk menopang ekomoni mayoritas masyarakat sekitar masih menggantungkan hidup dengan menjadi nelayan. Mengapa membangun pabrik semen disini, sementara masih banyak lokasi yang memenuhi syarat?

Mungkin ini adalah kunjungan pertama sekaligus terakhir kami ke Pulau Condong Sulah. Karena ke depannya kita tak pernah tau akan seperti apa kawasan wisata yang mencoba mengakrabkan diri dengan industri ini. Tetap bertahan menjadi kawasan wisata kah atau justru malah berubah menjadi kawasan industri? "Laut adalah masa depan." Demikian Bung Karno dulu selalu ucapkan. Kita tak perlu menjadi marinir untuk menjaga laut. Kita hanya perlu peduli.

Pulau Condong Sulah

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo