Pagi itu udara dingin menusuk. Saya dan ketiga
sahabat saya berada di camp area Plawangan Senaru, Gunung Rinjani. Saat itu
kami baru membuka mata berdiam diri sejenak di dalam tenda sembari menunggu
mentari menampakan dirinya agar kehangatannya dapat kami rasakan.
Pagi itu hari terakhir kami berada di Gunung
Rinjani. Sudah masuk hari ke-4 kami berada di gunung ini. Sebelum perjalanan
jauh menembus hutan untuk keluar kami harus sarapan terlebih dahulu untuk
mengisi energi.
Logistik kami habis. Hanya tersisa beras dan
bumbu dapur (masako, royco, dan saori) bahkan mie instan pun tak tersisa satu
pun.
Waktu itu Oktober 2016 Gunung Rinjani ditutup
karena meletusnya Gunung Barujari sebuah anak gunung yang berada dikawasan
Gunung Rinjani. Kenekatan kami untuk tetap mendaki berakibat kurangnya
persiapan kami dalam menyiapkan logistik karena semua serba terburu-buru agar
terhindar dari razia polisi hutan.
Pemandangan di Plawangan Senaru luar biasa
indah kami bisa melihat danau dari atas bukit. Sambil melihat pemandangan yang
indah kami masak sarapan pagi dengan menu yang tersisa; nasi yang diaduk dengan
masako, royco, dan saori. Makanannya terasa sangat gurih. Cuma ini satu-satunya
makanan yang bisa kami makan untuk mengisi energi mengingat di Plawangan Senaru
ini hanya ada tenda kami dan tidak ada orang lain yang bisa kami mintai lauk
pauk.
Saya masih ingat di kantong
celana saat itu memegang uang tunai sebesar 1 juta. Untuk pertama
kali dalam hidup saya merasakan uang yang saya punya tidak salalu bisa membeli
apa yang saya inginkan. Terlepas dari tidak adanya pedagang disana alam
mengajarkan kami untuk tidak terlalu bergantung kepada uang. Bahwa kalau kami
mau berusaha mencari makan di alam, alam memberi segalanya secara gratis dan
tidak memungut biaya sepeser pun.
Sedikit mundur ke Desember 2012 tepatnya menjelang pergantian
tahun. Saya dan teman-teman sekolah ingin merayakan tahun baru di Pulau Bali. Saat
itu saya bersekolah di Kota Semarang. Saya pamit dengan orang tua dan diberi
uang saku hanya 25 ribu. Bagaimana ceritanya saya bisa sampai ke Pulau Bali?
Panjang sekali. Tapi bukan bagaimana caranya saya sampai ke Pulau Bali yang
ingin saya ceritakan.
Untuk makan sehari-hari saya dan
teman-teman sudah mendapat sponsor dari salah satu ibu teman saya. Saya dan
teman-teman saya yang berpergian dengan uang saku seadanya sadar diri dan tak
pernah menuntut harus makan ini atau itu. Pergi ke Pulau Bali dengan uang
saku seadanya sebenarnya sudah cukup untuk kami di cap tak tau diri.
Sampai disuatu malam satu hari
sebelum tahun baru yang biasanya kami rutin makan nasi kucing dipinggiran
Pantai Kuta, kami diajak makan disebuah restoran seafood ternama. Blue Marlin Café
yang terletak di Jimbaran. Sebuah café di tepi pantai. Salah seorang teman kami
kedatangan saudara yang kebetulan juga sedang ingin merayakan tahun baru di
Pulau Bali. Yang juga kebetulan tidak tau kami tidak punya banyak uang dan
ingin makan enak.
Kami kalap. Dari makanan
pembuka, menu utama, sampai penutup yang tersaji bersih tak tersisa. Tawa kami
semua seketika melebar. Saudara teman kami membayar bill dengan total tagihan sekitar
3 sampai 4 juta. Saya lupa angka persisnya tapi waktu itu kami juga tidak peduli
angka persisnya.
Beberapa minggu lalu saya dan salah satu sahabat saya yang sama-sama pernah merasakan makan nasi yang diaduk dengan masako, royco, dan saori diajak makan disebuah restoran
seafood ternama oleh sebuah perusahaan plat merah setelah melakukan kegiatan
tanam mangrove bersama. Jemahdi Seafood yang terletak di Pantai Indah Kapuk.
Seketika saya teringat waktu makan di Blue Marlin Café beberapa tahun lalu dan
ingin sedikit berbagi cerita tentang makanan yang membuat saya bernostalgia.
Makan nasi yang diaduk dengan
masako, royco, dan saori atau makan di restoran seafood ternama adalah cara
saya mengenang masa muda penuh petualangan.
Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo
![]() |
| Saya dan salah satu teman di Jemahdi Seafood |
Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo
