Kamis, 30 Desember 2021

Berlayar Sekali Lagi (Bagian Pertama)

    Saya masih seringkali membayangkan hari-hari itu. Semilir angin yang menemani pelayaran Surabaya-Labuan Bajo. Diatas kapal Pelni Lauser jurusan Surabaya-Marauke. Hari-hari yang menenangkan itu ingin sekali saya ulangi. Sekali lagi.
    
    Duduk di terminal bis, menunggu transportasi yang akan mengantarkan saya dari Depok menuju bandara udara Soekarno Hatta, Tangerang. Saya melihat salah seorang teman saya sedang membuat Instagram Story tengah berdiri di Pulau Padar salah satu pulau di Taman Nasional Pulau Komodo. Saya iseng bertanya apa ia masih lama berada disana? Lalu sebuah video call Whatsapp masuk. Randy Sanjaya, teman saya yang tengah berada di Pulau Padar tersebut mengabari kalau ia masih lama disana dan mengajak saya untuk segera menyusulnya. Rencana saya yang sebelumnya hanya ingin mengunjungi pernikahan teman saya di Semarang lalu keliling menyusuri pulau Jawa berubah total menjadi sebuah perjalanan yang mengubah banyak hidup saya, perjalanan ke Labuan Bajo.
    Semarang selang dua hari. Saat itu hujan deras saat saya sedang bimbang memutuskan untuk melalui jalur udara atau laut menuju Labuan Bajo. Permasalahannya saat itu jalur udara dari dan menuju luar pulau Jawa-Bali diwajibkan test PCR terlebih dahulu sehingga membuat budget perjalanan melalui jalur udara menjadi bengkak. Sudah tiket pesawatnya mahal, ditambah harus test PCR yang hampir seharga tiketnya pula gumam saya.
    Dalam hidup saya belum pernah sekalipun naik kapal Pelni. Paling mentok hanya kapal ASDP yang menyebrang antar pulau dengan durasi terhitung jam. Namun berlayar berhari-hari diatas kapal Pelni nampaknya harus saya rasakan kali ini demi menghemat budget tentu saja.

    Dari Semarang saya menaiki mobil travel menuju Surabaya dengan budget 150k, siapa sangka ternyata mobil travel yang mengantarkan saya adalah Mitsubishi Pajero, dengan kenyamanan interior didalamnya saya berasa pejabat yang tengah diantar dalam perjalanan dinas.
    Pagi itu matahari belum nampak saat ayam-ayam keras berkokok. Saya menginjakan kaki di kota pahlawan ini setelah kurang lebih 8 jam perjalanan di mobil travel. Waktu yang cukup lama untuk jarak tempuh yang harusnya hanya 4 jam (menurut google maps).
    Jam 06.00 WIB kantor Pelni masih tutup dan buka pukul 08.00 WIB tepat jam keberangkatan kapal Pelni Lauser jurusan Surabaya-Marauke. Mana sempat pikir saya hanya hitungan detik setelah dapat tiket saya harus pergi ke pelabuhan Tanjung Perak untuk segera berangkat. Saya memilih meninggalkan kantor Pelni dan langsung menuju pelabuhan Tanjung Perak, mencoba peruntungan beli tiket langsung diatas kapal. Kelalain saya tidak mencoba membeli secara online sebelumnya harus dibayar mahal dengan harap-harap cemas.

    Tidak ada penjualan tiket di pelabuhan Tanjung Perak. Rasanya saat itu saya sudah pesimis bisa berangkat menuju Labuan Bajo. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saya bertemu Mas Ato salah seorang petugas pengecek tiket di pelabuhan Tanjung Perak. Ia membantu saya menghubungi temannya yang bertugas di kantor Pelni. Ternyata walaupun buka pukul 08.00 WIB kantor Pelni menerima pelayanan pembelian tiket pagi itu. Saya berhutang budi pada Mas Ato, saya bisa berlayar berkat bantuannya.
    Kapal Pelni Lauser dek 4 tempat tidur nomer 20 menjadi milik saya selama 3 hari berlayar kedepan. Ruangan yang cukup besar dengan ac didalamnya. Rasanya saat itu terasa nyaman-nyaman saja apalagi ternyata kamar mandinya sangat bersih seperti berada di dalam mall.

    Tepat pukul 08.00 WIB suara klakson kapal berbunyi tanda kapal mulai berlayar. Khawatir selama pelayaran tidak ada sinyal saya mengirim pesan Whatsapp ke teman saya Randy "Kapal saya berangkat, sampai jumpa 3 hari lagi!"
    Pagi itu setelah mengirim pesan yang saya lakukan adalah tidur. Melepas semua beban kekhawatiran sebelum memulai sebuah pengalaman baru berlayar di lautan berhari-hari.

    Bersambung...

Salah satu spot diatas kapal Pelni Lauser

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo

Minggu, 27 Juni 2021

Mencari Makna dalam Bekerja

    “Pekerjaan itu tidak memberiku kelimpahan tapi memberiku keamanan finansial sekaligus kehidupan yang itu-itu saja.” Kata Andrea Hirata dalam novel Edensor karyanya.
    Kata-kata itu terus membekas dipikiranku. Belakangan setelah selesai sekolah, tahun demi tahun saya habiskan hanya untuk bekerja. Tidak terasa usia sudah menginjak 25, namun hidup terasa semakin hampa.
    Ditemani secangkir kopi panas saya merenungi hidup ini. Dewasa apakah harus seperti ini? Kerja, kerja, dan kerja. Dengan kerja kita bisa membeli apa yang kita butuhkan, tapi apakah dengan kerja kita bisa membeli apa yang kita inginkan?

   Saya membuka profil Instagram pribadi saya, melihat foto-foto betapa banyak perjalanan yang telah saya lalui. Disela-sela libur pekerjaan saya biasa melakukan hobi travelling seperti hiking, snorkeling, maupun kegiatan alam lainnya. Hal-hal tersebut membuat hidup saya terasa lebih bermakna.
    Makna, sebuah kata sederhana namun penuh arti. Kalau dalam travelling saya bisa menemukan makna, apakah dalam bekerja saya juga bisa menemuinya?
    Mungkin terdengar naif, di era pandemi ini dimana orang banyak yang membutuhkan kerja saya justru mengeluh tentang pekerjaan itu sendiri. Namun seiring berjalannya waktu bukankah pekerjaan juga sudah berubah maknanya?
    Dijaman orang tua kita dahulu mungkin bekerja disebuah perusahaan besar dengan gaji tinggi serta sederet fasilitas kelas atas lainnya merupakan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Namun jaman telah berubah, sekarang telah banyak anak muda yang cukup bermodalkan internet membuat satu video di YouTube bisa mendapatkan hasil yang bahkan bisa setara dengan penghasilan kita selama setahun? Lucu bukan.

    Pekerjaan memang begitu banyak dan beragam yang bisa dijalankan. Namun menemukan pekerjaan yang membuat hidup saya bermakna begitu sulit didapatkan. Ya semoga kelak saat saya sudah menemukannya saya bisa sedikit tersenyum saat kembali membaca tulisan tak bermakna ini.


Saya dan salah satu rekan kerja


Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo