Minggu, 02 Oktober 2022

Berlayar Sekali Lagi (Bagian Terakhir)

     Cuaca diluar hujan. Rintik dan aromanya membuat suasana tenang terasa. Saya tak punya pilihan selain menghabiskan waktu di dalam rumah. Begitu banyak pilihan yang bisa saya lakukan, namun melanjutkan tulisan yang telah lama saya tinggalkan rasanya menjadi pilihan yang paling bijak.


    Saya terbangun saat siang hari menjelang. Sebuah pengumuman makan siang pada pukul 11.00 WIB, yang menurut saya tentu saja terlalu cepat untuk makan. Memang dalam hidup saya tidak mengenal jam makan ideal. Lapar, makan. Namun jam 11.00 WIB rasanya aneh untuk dinamakan makan siang.

    Mas Noer memperkenalkan diri seorang kepala keluarga yang berlayar bersama keluarganya. Mencoba mengadu nasib ke Saumlakki, Maluku. Ia memberi saya sebuah lauk yang ia bawa, ikan asap yang telah dikeringkan. Sialnya saya melupakan nama ikan tersebut. Ikan yang kelak selama 3 hari diatas kapal menjadi menu favorit saya.

    Sembari makan kami berbincang-bincang. Memperkenalkan diri kami masing-masing. Mas Noer adalah seorang nelayan dari Madura. Ia mendapatkan tawaran dari saudaranya (yang juga seorang nelayan) untuk ikut serta bersama timnya mencari ikan di Saumlakki. Ia memborong serta keluarganya untuk merantau kesana.

    Dalam hidup saya hanya merasakan mancing satu kali di Pulau Pramuka, namun menjadi mata pencaharian rasanya tak pernah saya bayangkan. Melawan deburan ombak tiap hari, bertaruh dengan cuaca, meninggalkan keluarga didaratan, serta jauh dari peradaban. Ah, berat sekali pekerjaannya. Hidup yang mudah memang bukan milik setiap orang.

    Saat makanan kami hendak habis datang seseorang yang cukup tua dengan senyum sumringah, memberi snack yang kami dapat dari jatah makan siang kepada seorang anak perempuan kecil. Ya, anak Mas Noer. "Ini buat kamu" ujar orang tua tersebut. Lalu memberi uluran tangan kepada kami berdua memperkenalkan diri sebagai Pakde.

    

    Usai makan siang kami keluar dari dek, berkumpul dianjungan untuk menikmati sebatang rokok. Pakde banyak bercerita tentang asal usulnya dan mengapa ia berada di atas kapal ini. Tentu saja diselingi guyonan jayus ala orang tua.

    Ia berasal dari Malang, dan mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai supir perusahaan kelapa sawit di Merauke, Papua. Meski usianya sudah lebih dari kepala lima, namun semangat kerjanya patut diacungi jempol. Merantau meninggalkan keluarganya di Jawa sana untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Lagi-lagi hidup yang mudah memang bukan milik setiap orang.

    Sembari menghisap rokok saya menikmati cerita Mas Noer dan Pakde tentang banyak hal yang mereka perbincangkan. Tentu saja diantara kami bertiga, pekerjaan saya sehari-hari bisa dibilang menjadi pekerjaan yang aneh bagi mereka. Plan, execute, evaluate, and report campaign menjadi hal yang mereka saya yakin akan garuk kepala bila saya ceritakan. Jadi saya lebih memilih banyak mendengar dari pada bercerita kali ini.


    Pukul 18:00 WIB sebuah pengumuman kembali diputar, tiba jam makan malam. Lagi-lagi jam makan yang aneh bagi saya. Alih-alih menikmati pemandangan senja dengan deburan ombak diatas kapal kami harus antri mengambil makanan. Perlu diketahui apabila kami tidak mengambil makan dalam batas waktu yang ditentukan kami tidak akan mendapatkan makanan. Memang tersedia kantin di kapal ini, namun hanya ada pop mie sebagai pilihannya.

    Saya, Mas Noer dan keluarga, serta Pakde menikmati sajian malam yang tentu saja paling saya tunggu, kembali menyicipi ikan asap yang keluarga Mas Noer bawa sebanyak satu toples besar. Malam itu dalam sunyi dek, kami bersyukur bisa menjadi keluarga baru. Seusai makan dan tentu saja menikmati sebatang rokok, saya memilih tidur lebih dahulu. Dengan suasana dek yang tenang (karena penghuni dek tersebut hanya kami), saya terlelap dengan pulas. Tak terasa kami sudah berada diperairan Bali.


    Tanjung Benoa pukul 14:00 WITA kapal yang kami naiki berlabuh, suasana kapal yang awalnya tenang berubah ramai. Para penumpang berangsur naik dan mengisi kamar yang kosong saat berangkat. 2 jam lebih kapal berlabuh mengisi air bersih dan keperluan berlayar lainnya.

    Saya menikmati waktu sendirian dikantin menikmati secangkir kopi, sebatang rokok dan melihat-lihat sosial media. Saya mengabari teman saya Randy, bahwasannya saya telah berada di Bali. Sembari membuka tanya jawab di Instagram Story tentang rasanya berlayar berhari-hari. Banyak pertanyaan lucu seperti bagaimana mandinya? Tentu saja di kapal ini tersedia kamar mandi, yang tidak kalah dengan di mall. Bersih dan terawat.

    Sore hari kapal membunyikan kembali klaksonnya tanda segera berlayar. Matahari terlihat berangsur mulai tenggelam, perlahan kami mulai meninggalkan perairan Bali.

    Pada malam hari selepas makan malam tak banyak yang bisa saya lakukan selain hanya mengobrol dengan penumpang sesama dek. Ditengah laut jarang sekali bisa mendapatkan sinyal internet, jadi saya lebih memilih tidur tiap kali malam datang.


    Tak terasa saya memasuki hari ke-3 diatas kapal, rasanya saya sudah semakin terbiasa. Siang nanti kapal akan berlabuh di Bima sebelum sampai di Labuan Bajo dini hari nanti.

    Saya, Mas Noer dan Keluarga, serta Pakde dan beberapa penumpang lain berswafoto, mengabadikan momen pertemuan kami di atas kapal Pelni Lauser ini. Dari tempat kami berfoto pemandangan bukit-bukit hijau terlihat jelas. Indah sekali. Saya masih ingat hangat betul perasaan saya saat itu, ditambah keramah tamahan orang-orang dinegeri ini amat terasa. Saya bangga menjadi orang Indonesia.


    Kapal berlabuh di Bima, puluhan porter gotong royong mendorong jembatan penyebrangan secara manual. Usai terpasang, mereka berbondong-bondong masuk kedalam kapal menjajakan tawaran untuk membawakan barang.

    Kali ini saya turun dari kapal dan menikmati secangkir kopi diwarung pelabuhan. Bima saat siang hari amat terasa panasnya. Namun karena ini tempat yang baru pertama kali saya kunjungi, saya memilih menikmatinya.

    Diwarung saya berkenalan dengan seorang pria bernama Kici, berasal dari Pulau Rote dan akan merantau ke Merauke. Ternyata ia satu kapal dengan saya, namun didek yang berbeda. Siang itu ia banyak bercerita tentang pengalamannya berlayar dan mengajak saya untuk menikmati malam terakhir dikapal dengan berdendang bersama.


    Malam ini adalah malam terakhir saya, selepas mengobrol dengan Mas Noer dan Pakde saya mengunjungi tempat Kici biasa menghabiskan malam. Kurang lebih pukul 22:00 WITA, 3 jam lagi saya sampai ditempat tujuan saya Labuan Bajo. Kici memperkenalkan saya dengan teman-temannya, teman yang tentu saja baru juga ia kenalnya diatas kapal Amat, Vanneman, dan Veronika.

    Amat adalah seorang pengusaha bawang merah yang akan mencoba peruntungan berjualan di Makassar. Sedangkan Vanneman adalah seorang mahasiswa yang akan pulang ke kampung halamannya di Timika. Terakhir Veronika seorang biarawati yang ingin berkunjung ke tempat saudaranya di Ruteng dan akan turun ditempat yang sama seperti saya di Labuan Bajo.

    "Angin bawa kabar kasana"

    "Bawa beta pung pasan par dia disana"

    "Bilang beta pung rindu bilang beta pung sayang"

    "Biar beta tapisah jauh ale ada di hati..."

    Kici mulai berdendang dengan alunan gitar yang ia petik. Saya tahu betul lagu ini. Lagu yang cukup sering saya dengar. Selera musiknya boleh juga. Kebetulan saat itu ada sinyal internet masuk meskipun tak terlalu bagus cukup untuk mencari lirik agar teman kami lainnya yang tak tahu lagunya bisa ikut menyanyi bersama. Saat reff berlangsung kami semua bernyanyi ditemani semilir angin laut malam hari.

    "Kalo ada yang mo maso minta"

    "Nona tarima saja"

    "Jang ale pikir beta lai"

    "Perkara cinta beta cinta"

    "Mo sayang paling sayang"

    "Marsio mo biking apa"

    "Parcuma beta susah di rantau..."

    Malam itu kami menyanyikan banyak lagu dan tertawa bersama, tak terasa pengumuman kapal akan segera berlabuh di Labuan Bajo pun berbunyi. Sial, waktu berlalu begitu cepat untuk orang yang menikmatinya.

    Saya bangkit dari tempat duduk memeluk mereka satu persatu. Berpamitan dengan Kici, Amat, Vanneman, dan Veronika. Berterima kasih atas malam terakhir yang menyenangkan ini. Rasanya seperti perpisahan diatas kapal Titanic.

    Selesai mengemas barang bawaan saya berpamitan juga dengan Mas Noer dan keluarga serta Pakde. Tujuan saya telah sampai. Diatas kapal Pelni Leuser saya akhirnya menemukan makna saudara sebangsa dan setanah air.


Saya, Amat, Veronika, Kici, dan Vanneman seusai berdendang

   

Sisi lain saya dapat ditemui diakun Instagram @dipabudiharjo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar